Wonocepokoayu (31/12) -- Wabah penyakit pohon yang menjangkiti komoditas kayu utama Desa Wonocepokoayu masih belum kunjung usai. Pasalnya, Wabah kayu balsa ini telah menyerang semenjak ditemukan pertama kali oleh Kepala Desa Wonocepokoayu, Sutiyono, pada 2019. Menurut beliau, belum ada instansi terkait yang dapat mengidentifikasi penyebab mengapa wabah tidak kunjung usai.
“Telah dilakukan berkali-kali penelitian dari berbagai dinas dan lembaga penelitian yang membidangi masalah ini, namun belum ada yang menemukan jawabannya,” ujar Sutiyono. Beliau sendiri menduga bahwa penyakit ini disebabkan oleh kebiasaan menanam warga yang terlalu berdekatan antara satu dengan yang lainnya.
Perwakilan Unit Pelaksana Teknis Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP), Bambang, beranggapan bahwa penyakit kayu Balsa yang telah menahun ini disebabkan oleh kondisi iklim lokal Senduro yang lembab, mempermudah patogen jamur untuk menyebar ke tanaman kayu yang ditanam oleh masyarakat.
“Karena Senduro sering mengalami hujan, kondisinya lembab, jamur mudah tumbuh di area perkebunan, dan karena kayu Balsa merupakan tumbuhan asal Amerika, kekebalan kayu balsa belum terbentuk untuk menangkal penyakit lokal. Meskipun begitu, perlu banyak penelitian lebih lanjut untuk membuktikan ini.”
Minat menanam kayu Balsa di kalangan warga Desa Wonocepokoayu memang dinilai cukup tinggi, mengingat harganya yang mahal di pasar ekspor dan masa panennya yang relatif cepat yaitu 2 tahun. Lebih cepat apabila dibandingkan dengan kayu sengon yang baru dapat dipanen setelah 6 tahun. Dilansir dari artikel pikiran-rakyat.com, per tahun 2019, permintaan ekspor kayu balsa ke luar negeri terutama Tiongkok cukup banyak dengan nilai hasil ekspor senilai 3.7 miliar rupiah.
Wabah kayu balsa yang terjadi selama 4 tahun terakhir ini menyebabkan masyarakat merugi. Ketua Kelompok Pertanian Mekarsari, Ngatuwi, mengaku bahwa banyak masyarakat di sekitarnya kehilangan penghasilan utama dan terpaksa untuk mencari komoditas baru atau mengadu nasib di negara lain.
“Setelah wabah ini, masyarakat akhirnya memilih jalan lain untuk mencari pendapatan. Ada yang mencari kerja ke Malaysia, ada yang beralih menanam kapulaga, dan mayoritas kembali menanam Sengon seperti semula.”
Penulis: Muhammad Haris Naufal
KKN-PPM UGM Periode 4 Senduro Lumajang
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada
KembaliCopyright © 2020 Diskominfo Kab. Lumajang - Dibuat dengan penuh